Kamis, 12 April 2018

WISATA SEJARAH : Menelusuri Cagar Budaya Pulomajeti

Lokasi Cagar Budaya Pulomajeti tampak dari gerbang masuk

JAS MERAH! Jangan lupakan Sejarah!. Itulah salah satu ungkapan Soekarno yang sering didengungkan. Bagaimana tidak, peristiwa untuk saat ini bisa jadi adalah sejarah masa-masa berikutnya. Begitupun masa-masa yang telah dilewati oleh orang-orang terdahulu adalah Sejarah untuk saat ini.
Pulomajeti, sebagai salah satu Cagar Budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tepatnya di  Jl. Siluman  Baru, Kelurahan/Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Tempat ini merupakan makom (tempat beribadah) Kangjeng Ibu Ratu Gandawati Sanghiang Ingkang Garwa, istri  dari Kerajaan Onom yang memiliki kedekatan dengan petinggi Kerajaan Galuh.

Nama Onom sendiri merupakan sebutan lelembutan yang dekat dengan para Bupati-Bupati Galuh/Ciamis, terutama jaman Kangjeng Prebu. Kerajaan ini bisa dikatakan sebagai Kerajaan sub Galuh, dimana para petingginya adalah orang-orang yang dulunya dekat dengan Bupati dan diperintahkan untuk membangun kerajaan disini. Dan terkenal sebagai kerajaan lelembutan yang memiliki kesaktian diri dan menghilangkan jejak.

"Memang benar, tempat ini adalah tempat bersejarah. Tempat bersemayamnya Kanjeng Ibu Ratu Gandawati Sanghiang Ingkang Garwa salah satu putri kerjaan Galuh untuk berdo'a kepada Tuhan. Tapi, mohon maaf, jangan mencari makam disini. Karena pasti tidak ada, tempat ini adalah makom, bukan makam", ujar Endang, salah satu kuncen situs Pulo Majeti (54). 

Menurut salah satu pengunjung, Gagan (22) tempat ini sangat cocok sebagi bahan penelitian para tenaga pendidik maupun untuk berziarah. Selama dia berziarah disini, disisi lain rasa kenyamanan berdoa muncul.  Asalkan, dengan isarat  niat yang tulus. Namun, dari beberapa pengunjung lain masih banyak orang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat pesugihan, memohon kelancaran usahanya dengan melakukan ritual-ritual mistis tertentu.

Walau bagaimanapun juga sebagai situs Cagar Budaya, menurut Endang keberadaan situs ini baru diresmikan sebagai Cagar Budaya dan dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi, pengelolaan tata letak ruangan dan pembersihan lokasi masih minim, mengingat kurangnya dana peremajaan situs. Jika ada, dananya pun berasal dari inisiatif warga sekitar Purwaharja.Memang wajar, mengingat Kota Banjar sendiri yang masih dikatakan baru berdiri. Dan masih banyak situs di Kota Banjar yang belum tergali, hanya sekitar 26 situs yang baru diresmikan.



Oleh :
Lena Latifah, Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar