Kring...kring...kriiing........
Suara bel pun begitu nyaringnya terdengar ke seluruh penjuru pondok. Sebagian besar para santriyah terbangun hanya karena nyaringnya suara bel itu, namun tak dapat dipungkiri pula ada beberapa santriyah yang masih terkapar lelap dalam tidurnya. Namun tanpa lelah para mudabbiroh pun tetap berusaha membangunkan para santriyah yang masih terlelap itu. Hingga akhirnya semua santriyah telah terbangun dan mereka bergegas untuk mengambil air wudlu dan bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan rutinitas sholat tahajud bersama setiap hari.
Selesai sholat tahajud bersama ada sebagian santriyah yang masih duduk di mesjid sambil memuroja’ah hapalan-hapalannya, ada yang sedang asyik mengantri di kamar mandi, yang sedang menyiapkan segala keperluan sekolahnya, bahkan ada pula santriyah yang kembali ke kamarnya untuk melanjutkan mimpinya yang terpotong tadi.
Tak lama dari itu, bel pun kembali di bunyikan pertanda waktu shubuh akan segera tiba. Riuh pikuk para santriyah pun begitu ramai, padahal hari masih pagi buta. Mereka bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah dan pengajian wajid ba’da shubuh. Suasana hangat pun terasa karena gemuruh para santriyah melantunkan aurod-aurod selepas sholat.
Selepas pengajian mereka pun sibuk dengan menyiapkan keperluan sekolah. Dan tepat pukul 07.00 mereka berangkat menuju sekolah. Suasana pondok pun hening dari pagi sampai pukul 13.00, hanya tersisa para mudabbiroh saja.
Ya rutinitas harian kami pun sangat padat. Pukul 03.00 para samtriyah dibangunkan untuk melaksanan sholat tahajud bersama dan membaca alquran bersama. Kemudian mereka diberi waktu untuk melakukan hal apapun hingga waktu shubuh tiba. Dan setelah itu waktunya sholat shubuh dan pengajian wajib ba’da shubuh sampai pukul 06.15. lalu mereka bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan pulang pukul 13.00. dari pikul 13.00 sampai 14.00 mereka diberi waktu istirahat dan memulai pengajian lagi pukul 14.00 sampai pukul 14.45. lalu mereka bersiap-siap melaksanakan sholat ashar berjamaah dan mengaji kitab pukul 16.00 sampai pukul 17.15. dan selepas mengaji mereka makan bersama, selepas makan mereka pun harus sudah bersiap melaksanakan sholat maghrib dan sampai selepas sholat isya mereka didalam mesjid. Ba’da sholat isya mereka kembali ke madrosah untuk mengaji lagi sampai pukul 21.30. dari sepulang mengaji mereka diberi waktu untuk belajar sampai pukul 22.00. dan dari pukul 22.00 mereka beristirahat hingga waktunya dibangunkanpun tiba.
Dan saat ini waktu pun menunjukkan pukul 13.00, lebih tepatnya mereka pun kembali ke haluan masing-masing. Aku dan para mudabbiroh yang lain bersiap menunggu mereka di pintu kamar. Semuanya sangat bersemangat ingin segera menuju kamar masing-masing. Seperti biasa mereka pun diberi waktu istirahat sampai pukul 14.00, dan selepas itu mereka akan disajikan deretan hapalan-hapalan yang siap mereka santap.
Seperti biasa pada saat waktu istirahat, anak-anak asuhanku yang berjumlah 15 orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Rutinitas mengantripun tak pernah hilang dalam kehidupan kami. Seperti halnya mandi, ngantri. Menyuci, ngantri. Melicin baju, ngantri. Dan lain sebagainya. Namun rutinitas ngantri inilah yang menjadi pemanis dan selalu membuat hidup kami indah.
Mereka memang masih sangat polos, dengan begitu banyaknya aturan dan hapalan yang disajikan pihak pondok, mereka jalani dengan sangat antusias. Semangatnya benar-benar masih sangat terlihat. Dengan penuh keterbatasan aku pun berusaha menjadi sempurna membimbing mereka, dan bahkan tak dapat dipungkiri aku selalu mendapat pelajaran dari mereka yang sangat luar biasa.
Kehidupan menjadi seorang santi memang sangat rumit dan mengenaskan jika dibayangkan. Namun pada kenyataannya menjadi seorang santri dan tinggal di pondok pesantren adalah sebuah pengalaman cantik yang takkan pernah terlupakan.
Hidup serba ngantri, makan seadanya, istirahat secukupnya, bahkan terkadang waktu istirahat pun berkuran karena memang ada tugas atau hapalan yang harus di kerjakan saat itu juga. Jauh dari keluarga, terkadang kesulitan masalah air, uang bulanan habis, namun ayah dan ibu belum pula menjenguk, penuh dengan aturan, dikit-dikit dipanggil karena melanggar, di hukum karena tidak mentaati peraturan, harus rela melaksanakan piket dan ikhlas ketika di suruh oleh sang kiayi ataupun buyai. Ah memang benar, ini semua rumit. Namun sangat berkesan. Setiap deretan kejadiannya takkan pernah terlupakan. Setiap potret pun pasti akan tetap tergambar jelas dalam memori dan benaknya para santri dan santriyah.
Nikmatnya menjadi santri ketika menu makan agak elit sedikit, atau saat pak kiayi memberi makanan sebagai upah nyata ketika selesai di suruh-suruh.
Ya, inilah alasan kenapa sampai saat ini aku masih bertahan mengabdikan diri mengurus puluhan santriyah tanpa diberi upah sepeserpun. Karena keridhoan kiayi lah yang aku harapkan. Ketika kiayi sudah meridhoi, in sya Allah orang tua akan bahagia dan Allah pun akan meridhoi. Aamiiiin....
Oleh : Nur Azizah Barkah; Santriah Pusaka Bustanul Wildan dan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN SGD Bandung
Senin, 26 Februari 2018
Kebangkitan Umat Islam Indonesia Abad 21
| AKSI 212-Sumber Google |
Memang sungguh ironis. Siapa yang tak tahan mendengar kitab suci agamanya dihina, padahal Indonesia sangat memegang teguh nilai-nilai toleransi dalam Pancasila. Siapa yang tak sedih melihat jutaan umat berjubah putih memenuhi Ibu Kota. Air mata suci bertetesan tiada akhir. Aksi bela agama yang dilakukan oleh sejumlah ormas Islam tanggal 4 November kemarin, atau dikenal sebagai tragedi 411 mengundang simpati umat Muslim Indonesia.
Jika menengok sejarah eksistensi ulama pada masa awal Islamisasi, ulama adalah aktor sentral panggung Indonesia klasik. Kedudukan mereka berada pada tiga kedudukan penting, yaitu seorang saudagar, penguasa dan sufi. Tak heran, proses Islamisasi Indonesia berlangsng damai. Puncaknya berlangsng pada abad ke-16, ketika Kerajaan Islam Demak mampu mengalahkan Majapahit dan merangkul wali songo untuk ikut andil dalam kegiatan pemerintahan.
Pada sisi lain, kondusifnya proses islamisasi tesebut dibantu oleh beberapa aspek. Pertama, situasi kerajaan Hindu yang sedang mengalami kekacauan. Seperti halnya kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Pajajaran ketiga kerajaan besar ini pada abad sekitaran abad 13-16 mengalami kekacaan yang luar biasa. Islam pun akhirnya datang disaat yang tepat. Kedua, luasnya jalur perdagangan Asia Tenggara melalui India, Arab, dan China. Dan aspek yang terakhir, sikap egalitarianism Islam yang tidak mengenal kasta.
Selain itu, ketika datangnya Belanda mereka pun ikut memperjuangkan kemerdekaan. Banyak dari kalangan santri dan ulama berbondong-bondong mengorbankan darahnya demi kalimat Merdeka!. Contohnya pada peristiwa perang Aceh. Perang ini termasuk perang paling lama dan panjang dalam sejarah perlawanan terhadap kolonial Belanda di Indonesia. Perang ini berlangsung beberapa kali dalam kurun waktu 39 tahun (1873-1912). Perang ini berawal dari usaha Belanda meluaskan daerah kekuasaannya untuk mendapatkan pengakuan dari rakyat Aceh sendiri, tapi sayang nyatanya tidak. Banyak pemimpin Islam yang gugur dalam peristiwa ini, seperti Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Panglima Polim, dan Sultan Mamud Syah yang diasingkan ke Ambon tahun 1970. Cut Nyak Dien pun yang melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Umar dibuang ke Sumedang dan meninggal disana.
Tapi sayangnya kado terindah persembahan para ulama untuk Indonesia dikubur dalam-dalam. Pada awal kepemimpinan presiden Soekarno, nampaknya Islam justru menjadi momok yang menakutkan. Beberapa kebijakan anti Islam banyak terbukti. Seperti penolakan sila pertama paiagam Jakarta, yang jelas-jelas telah disetujui pada siding konstituante. Tapi, memang jika menengok ke heterogennya ragam Indonesia memang harusnya seperti itu. Terlepas dari kebijakan pemerintah sendiri apakah pembentukan Indonesia itu berdasarkan Islam atau tidak. Bagaimanapun juga suatu kebijakan harus diambil kata sepakat oleh semua pihak. Lain pancasila, lain pula Partai Islam Masyumi. Partai Islam ini dibubarkan oleh Soekarno tahun 1960, hal ini menunjukkan ketidak netralan kebijakan pemerintah dalam agama.
Setelah Soekarno, muncul sosok Soeharto pengganti presiden pertama. Setelah tadi disinggung pembubaran Masyumi 1960, pada era beliau ada pengakuan untuk merekonstruksi Masyumi tahun 1968. Tapi, pendapat tersebut ditolak oleh Soeharto. Para pembantu dan mentri yang ada dalam tubuh Orde Baru ini didominasi oleh non Islam. Apa daya kini Islam hanya menjadi penonton kebijakan pemerintah. Akan tetapi, ada organisasi ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk oleh Soeharto sendiri karena melihat situasi umat Islam yang mulai mendesak kedudukannya. Setelah ICMI terbentuk, beberapa mentri dari kalangan santri muncul ke pangnggung, puncaknya pada tahun 1993. Dan partai Islam pun ikut memunculkan taringnya seperti PPP, meski hanya dianggap sebagai simbol demokrasi multi partai semata. Namun, naiknya tokoh Islam ke panggung pemerintah justru merobohkan eksistensi Orde Baru.
Berbeda dengan masa silam, kini muncul tragedi 411 aksi bela agama atas tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) dapat digambarkan sebagai aktor kolonial masa kini. Beliau ditetapkan sebagai tersangka. Presiden yang dalam agenda acara aksi tersebut diundang, justru malah menolehkan diri. Beliau Enggan hadir di acara aksi ini. Sedangkan Ahok tetap tenang menjalani kampanye untuk mempromosikan dirinya di kursi Gubernur DKI.
Setelah aksi bela agama, dilanjutkan dengan aksi damai tanggal 2 Desember 2016, atau dikenal sebagai 212. Jutaan Muslim Indonesia berbondong-bondong mengorbankan waktu dan tenaganya untuk jihad menegakkan kebenaran di silang monas Jakarta untuk yang kedua kalinya. Tapi, ada yang berbeda dengan aksi damai disini. Presiden yang pada aksi bela agama tidak hadir, akhirnya sekarang dia hadir, Pada awalnya, beliau bersama wakil presiden awalnya enggan shalat jum'at di Monas. Keputusan untuk shalat di Monas ini sangatlah mendadak. Lukman Hakim, selaku mentri agama yang ikut shalat jum'at juga menuturkan bahwa keputusan ini sangat mendadak, beberapa menit sebelum adzan dzuhur berkumandang.
Dalam aksi damai ini, sebelumnya sempat ada isu makar. Namun, menjelang pelaksanaan aksi 212, tudingan makar meredup. Presiden Jokowi kemudian menyebut aksi ini sebagai do'a bersama. Bahkan Polri menyebutnya ibadah. Ketika massa yang akan berangkat ke Jakarta meledak, sempat ada larang bus PO untuk mengangkutnya ke Jakarta. Tapi, semangat mereka tak pernah padam. Contohnya di Ciamis, para santri dan Ulama berbondong-bondong berjalan kaki menuju Jakarta. Hal ini mengundang simpati masyarakat yang mereka lewati
Dari serangkaian peristiwa kontemporer tersebut, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) telah berjasa bagi warna sejarah Islam Indonesia. Banyak sekali kebijakan yang beliau buat demi kemajuan Jakarta bahkan Indonesia. Terutama dibidang ekonomi, seyogianya beliau memiliki sikap yang tegas, lugas dan gesit. Dan untuk sekarang dalam bidang agama, umat Islam di Indonesia bisa bersatu hanya karena kesalah pahaman pendapat beliau atas surat Al-Maidah 51. Tapi, sayangnya cara yang beliau gunakan tidak sependapat dengan keseluruhan umat Islam Indonesia. Karena walau bagaimanapun Indonesia dikenal negara dengan mayoritas beragama Islam dan Pancasila sebagai ideologinya.
Oleh : Lena Latifah, Santriah Pusaka danMahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN SGD Bandung
Kamis, 22 Februari 2018
Mari Berkontribusi!
Halo,
Kami segenap Pengurus Asrama Pusaka Bustanul Wildan menyadari pentingnya tulisan-tulisan keIslaman dengan latar kepesantrenan. Kami juga sangat menyadari sangat terbatasnya literatur-literatur tersebut.
Maka dari itu, Kami membuat sebuah blog agar Teman-Teman Santri dapat menulis dan dapat berbagi disini.
Syaratnya apa saja? hanya 1, yaitu kamu Santri (Boleh dari Pondok manapun)!
Tulisan-tulisan yang akan dikirim boleh berbentuk Puisi, Esai, Opini, Cerpen atau apapun dengan dasar keIslaman atau Kepesantrenan.
Kamu bisa mengirimkannya ke surel kami di pusaka.bustanulwildan@gmail.com.
Mari berproses bersama :)
Kami segenap Pengurus Asrama Pusaka Bustanul Wildan menyadari pentingnya tulisan-tulisan keIslaman dengan latar kepesantrenan. Kami juga sangat menyadari sangat terbatasnya literatur-literatur tersebut.
Maka dari itu, Kami membuat sebuah blog agar Teman-Teman Santri dapat menulis dan dapat berbagi disini.
Syaratnya apa saja? hanya 1, yaitu kamu Santri (Boleh dari Pondok manapun)!
Tulisan-tulisan yang akan dikirim boleh berbentuk Puisi, Esai, Opini, Cerpen atau apapun dengan dasar keIslaman atau Kepesantrenan.
Kamu bisa mengirimkannya ke surel kami di pusaka.bustanulwildan@gmail.com.
Mari berproses bersama :)
Langganan:
Postingan (Atom)