![]() |
| Gus Dur. Sumber : Google |
Dalam acara sewindu haul Gus Dur di Cirebon, Mba Alissa bercerita tentang bagaimana Gus Dur sangat dicintai oleh Bangsa kita. Katanya, saat mba Alissa berkuliah di UGM dan menjadi SENAT Mahasiswa, beliau bermain ke Surabaya dan tinggal di salah satu Kos temannya. Saat Mba Alissa mengatakan bahwa ia tinggal di Ciganjur, temannya langsung menanyakan berbagai hal. “Apakah rumahnya dekat dengan rumah Gus Dur?”, “ Apakah sering melihat Gus Dur?”. Padalah ia bertanya pada anak Gus Dur itu sendiri.
Setiap hari, di makam Gus Dur, ada 3000’an orang yang berkunjung. Bukan hanya orang Islam, tapi juga Orang China dan suku lainnya. Sampai-sampai FMIP pun menaruh bendera di pusara Gus Dur sebagai bukti kecintaan mereka padanya. SID, Band Punk terkenal juga mencintai Gus Dur, dan datang ke Pusaranya. Bahkan Orang China di Vigur pun mengenal Gus Dur.
Pertanyaannya
kemudian, apa yang membuat Gus Dur
begitu dicintai? Bahkan bukan hanya
oleh orang Indonesia? Bukan hanya oleh orang Islam?
Ketika mba Alissa
diminta menjadi pembicara tentang toleransi di Indonesia di hadapan para tamu
Internasional. MC mengenalkan Mba Alissa sebagai anak dari Mantan Presiden
Indonesia, yaitu Gus Dur. Salah satu perwakilan dari Thailand menangis saat
mengetahui itu. Ia mengatakan bahwa, hari ini ia dapat bebas beragama karena
sumbangsih Gus Dur dalam keragaman di Thailand.
Saat
Papua Nugini diganti nama menjadi Irian (Ikut Republik Indonesia), Orang-orang
Papua berdemonstrasi. Gus Dur memanggil salah satu nya dan menanyakan apa yang
mereka tuntut? Serta apakah mereka ingin keluar dari Indonesia? Mereka menjawab
Tidak dan menyatakan bahwa yang mereka inginkan adalah Jakarta yang keluar dari
Indonesia serta pengembalian nama Papua kembali, dan Gus Dur langsung
menggiyakannya. Sampai hari ini, hampir semua orang Papua mengenal Gus Dur,
utamanya mereka yang hidup di masa Gus Dur.
Ketika
Mba Alissa kelas 2 SMP, Gus Dur mengatakan bahwa keluarga bukanlah prioritas.
Yang menjadi prioritas pertama adalah Islam, Indonesia, NU kemudian baru
keluarga. Itu terbukti, saat Adit bin Marwan, seorang TKI dari Indonesia
terjerat kasus di luar negri. Gus Dur, dua bulan sebelum kematianya selalu
bolak-balik luar negeri. Keluarga tidak mengetahui untuk apa. Mereka tau
setelah kematian Gus Dur, ketika Adit bin Marwan datang ke rumah dan
mengatakan bahwa 2 bulan sebelum kematian Gus Dur itu, Gus Dur sedang
mengurusi kasusnya seorang. Saat Adit bin Marwan kembali ke rumahnya di Lombok,
hal yang pertama ia ingin kunjungi adalah Gus Dur, namun saat itu ternyata Gus
Dur sudah berpulang.
Lalu,
bukankah kita sudah menemukan jawaban mengapa banyak orang yang begitu
menyanyanginya? Bahkan saat beliau akan tiadapun beliau memikirkan orang lain.
Gus
dur juga mendukung kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Saat pernikahan
Mba Alissa, adat mencuci kaki suami ditiadakan. Karena ibu Sinta tidak
menyetujui dengan alasan kesetaraan antara keduanya. Dan itu langsung di iyakan
oleh Gus Dur.
Bahkan
Gus Dur mendidik 3 Putrinya dengan kebebasan memilih. Gus Dur memperbolehkan
anak-anaknya memilih jalan kehidupan mereka sendiri. Setelah kuliah mau
menikah, mau melanjutkan kuliah, mau bekerja atau apapun, Gus Dur akan
mendukung.
Bukan
hanya soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan atau egaliter
dalam masyarakatpun Gus Dur bangun dan menjadi contoh.
Dalam
rapat pernikahan Mba Alissa, salah satu Adik Gus Dur menyatakan bahwa penting
diadakannya tamu VIP dan Non-VIP. Namun Gus Dur menolak, dan menyatakan bahwa
semua tamunya adalah tamu VIP. Sehingga dalam semua pernikahan anak-anak Gus
Dur, Menteri-Menteri pun ikut mengantri untuk mengambil makanan.
Selain
setara, Gus Dur juga sangat sederhana. Setelah beliau menjabat sebagai
Presiden, beliau pernah meminjam uang
kepada Mba Alissa. Katanya, beliau memang sedang tidak memiliki uang. Karena
setiap ada amplop yang datang ke beliau, tidak jarang langsung ia berikan tanpa
melihat terlebih dahulu isi di dalamnya.
Gus
Dur telah berpulang bertahun-tahun lamanya, namun ia meninggalkan kita semua
berbagai pemikiran yang luar biasa serta tauladan kehidupan yang tiada
hentinya. Beliau bukan hanya pemikir atau intelektual Muslim, beliau juga
tauladan dan Guru Bangsa.
Semoga
Bahagia disana, Gus. Kami menyayangimu, juga akan mengikuti tauladanmu :)
Note
: Jika terdapat kesalahan nama tempat, tokoh dan lain-lain adalah murni kesalah
pahaman penulis.
Oleh :
Tia Isti'anah
Mahasiswi Psikologi dan Santriah Pusaka Bustanul Wildan
Oleh :
Tia Isti'anah
Mahasiswi Psikologi dan Santriah Pusaka Bustanul Wildan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar