Minggu, 08 April 2018

Gus Dur dan 9 Nilai Keutamaannya

Gus Dur, nama yang tidak asing lagi ditengah kita semua. Yang telah meninggalkan kita sewindu yang lalu, tepatnya tanggal 29 Desember 2009. Beliau bagaikan lentera yang menyinari kehidupan beragama, berbangsa, juga berpengatahuan bangsa Indonesia. Beliau menjadi orang nomer satu yang kita mintai rujukannya tentang apa saja, tentang kemanusiaan, tentang pengetahuan keislaman, tentang sejarah, bahkan tentang kita sendiri. Bukan hanya menjadi rujukan, beliau juga merupakan tauladan kebangsaan, tauladan keislaman, bahkan tauladan kesufian.

Gus Dur. Sumber : Google


Dalam acara sewindu haul Gus Dur di Cirebon, Mba Alissa bercerita tentang bagaimana Gus Dur sangat dicintai oleh Bangsa kita. Katanya, saat mba Alissa berkuliah di UGM dan menjadi SENAT Mahasiswa, beliau bermain ke Surabaya dan tinggal di salah satu Kos temannya. Saat Mba Alissa mengatakan bahwa ia tinggal di Ciganjur, temannya langsung menanyakan berbagai hal. “Apakah rumahnya dekat dengan rumah Gus Dur?”, “ Apakah sering melihat Gus Dur?”. Padalah ia bertanya pada anak Gus Dur itu sendiri.
Setiap hari, di makam Gus Dur, ada 3000’an orang yang berkunjung. Bukan hanya orang Islam, tapi juga Orang China dan suku  lainnya. Sampai-sampai FMIP pun menaruh bendera di pusara Gus Dur sebagai bukti kecintaan mereka padanya. SID, Band Punk terkenal juga mencintai Gus Dur, dan datang ke Pusaranya. Bahkan Orang China di Vigur pun mengenal Gus Dur.

Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat Gus Dur  begitu dicintai? Bahkan bukan  hanya oleh orang Indonesia? Bukan hanya oleh orang Islam? 

Ketika mba Alissa diminta menjadi pembicara tentang toleransi di Indonesia di hadapan para tamu Internasional. MC mengenalkan Mba Alissa sebagai anak dari Mantan Presiden Indonesia, yaitu Gus Dur. Salah satu perwakilan dari Thailand menangis saat mengetahui itu. Ia mengatakan bahwa, hari ini ia dapat bebas beragama karena sumbangsih Gus Dur dalam keragaman di Thailand.
Saat Papua Nugini diganti nama menjadi Irian (Ikut Republik Indonesia), Orang-orang Papua berdemonstrasi. Gus Dur memanggil salah satu nya dan menanyakan apa yang mereka tuntut? Serta apakah mereka ingin keluar dari Indonesia? Mereka menjawab Tidak dan menyatakan bahwa yang mereka inginkan adalah Jakarta yang keluar dari Indonesia serta pengembalian nama Papua kembali, dan Gus Dur langsung menggiyakannya. Sampai hari ini, hampir semua orang Papua mengenal Gus Dur, utamanya mereka yang hidup di masa Gus Dur.
Ketika Mba Alissa kelas 2 SMP, Gus Dur mengatakan bahwa keluarga bukanlah prioritas. Yang menjadi prioritas pertama adalah Islam, Indonesia, NU kemudian baru keluarga. Itu terbukti, saat Adit bin Marwan, seorang TKI dari Indonesia terjerat kasus di luar negri. Gus Dur, dua bulan sebelum kematianya selalu bolak-balik luar negeri. Keluarga tidak mengetahui untuk apa. Mereka tau setelah kematian Gus Dur, ketika Adit bin Marwan datang ke rumah  dan  mengatakan bahwa 2 bulan sebelum kematian Gus Dur itu, Gus Dur sedang mengurusi kasusnya seorang. Saat Adit bin Marwan kembali ke rumahnya di Lombok, hal yang pertama ia ingin kunjungi adalah Gus Dur, namun saat itu ternyata Gus Dur sudah berpulang.

Lalu, bukankah kita sudah menemukan jawaban mengapa banyak orang yang begitu menyanyanginya? Bahkan saat beliau akan tiadapun beliau memikirkan orang lain.

Gus dur juga mendukung kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Saat pernikahan Mba Alissa, adat mencuci kaki suami ditiadakan. Karena ibu Sinta tidak menyetujui dengan alasan kesetaraan antara keduanya. Dan itu langsung di iyakan oleh Gus Dur.
Bahkan Gus Dur mendidik 3 Putrinya dengan kebebasan memilih. Gus Dur memperbolehkan anak-anaknya memilih jalan kehidupan mereka sendiri. Setelah kuliah mau menikah, mau melanjutkan kuliah, mau bekerja atau apapun, Gus Dur akan mendukung.

Bukan hanya soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan atau egaliter dalam masyarakatpun Gus Dur bangun dan menjadi contoh.
Dalam rapat pernikahan Mba Alissa, salah satu Adik Gus Dur menyatakan bahwa penting diadakannya tamu VIP dan Non-VIP. Namun Gus Dur menolak, dan menyatakan bahwa semua tamunya adalah tamu VIP. Sehingga dalam semua pernikahan anak-anak Gus Dur, Menteri-Menteri pun ikut mengantri untuk mengambil makanan.
Selain setara, Gus Dur juga sangat sederhana. Setelah beliau menjabat sebagai Presiden, beliau pernah meminjam  uang kepada Mba Alissa. Katanya, beliau memang sedang tidak memiliki uang. Karena setiap ada amplop yang datang ke beliau, tidak jarang langsung ia berikan tanpa melihat terlebih dahulu isi di dalamnya. 

Gus Dur telah berpulang bertahun-tahun lamanya, namun ia meninggalkan kita semua berbagai pemikiran yang luar biasa serta tauladan kehidupan yang tiada hentinya. Beliau bukan hanya pemikir atau intelektual Muslim, beliau juga tauladan dan Guru Bangsa.
Semoga Bahagia disana, Gus. Kami menyayangimu, juga akan mengikuti tauladanmu :)
Note : Jika terdapat kesalahan nama tempat, tokoh dan lain-lain adalah murni kesalah pahaman penulis.

Oleh :
Tia Isti'anah
Mahasiswi Psikologi dan Santriah Pusaka Bustanul Wildan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar