| AKSI 212-Sumber Google |
Memang sungguh ironis. Siapa yang tak tahan mendengar kitab suci agamanya dihina, padahal Indonesia sangat memegang teguh nilai-nilai toleransi dalam Pancasila. Siapa yang tak sedih melihat jutaan umat berjubah putih memenuhi Ibu Kota. Air mata suci bertetesan tiada akhir. Aksi bela agama yang dilakukan oleh sejumlah ormas Islam tanggal 4 November kemarin, atau dikenal sebagai tragedi 411 mengundang simpati umat Muslim Indonesia.
Jika menengok sejarah eksistensi ulama pada masa awal Islamisasi, ulama adalah aktor sentral panggung Indonesia klasik. Kedudukan mereka berada pada tiga kedudukan penting, yaitu seorang saudagar, penguasa dan sufi. Tak heran, proses Islamisasi Indonesia berlangsng damai. Puncaknya berlangsng pada abad ke-16, ketika Kerajaan Islam Demak mampu mengalahkan Majapahit dan merangkul wali songo untuk ikut andil dalam kegiatan pemerintahan.
Pada sisi lain, kondusifnya proses islamisasi tesebut dibantu oleh beberapa aspek. Pertama, situasi kerajaan Hindu yang sedang mengalami kekacauan. Seperti halnya kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Pajajaran ketiga kerajaan besar ini pada abad sekitaran abad 13-16 mengalami kekacaan yang luar biasa. Islam pun akhirnya datang disaat yang tepat. Kedua, luasnya jalur perdagangan Asia Tenggara melalui India, Arab, dan China. Dan aspek yang terakhir, sikap egalitarianism Islam yang tidak mengenal kasta.
Selain itu, ketika datangnya Belanda mereka pun ikut memperjuangkan kemerdekaan. Banyak dari kalangan santri dan ulama berbondong-bondong mengorbankan darahnya demi kalimat Merdeka!. Contohnya pada peristiwa perang Aceh. Perang ini termasuk perang paling lama dan panjang dalam sejarah perlawanan terhadap kolonial Belanda di Indonesia. Perang ini berlangsung beberapa kali dalam kurun waktu 39 tahun (1873-1912). Perang ini berawal dari usaha Belanda meluaskan daerah kekuasaannya untuk mendapatkan pengakuan dari rakyat Aceh sendiri, tapi sayang nyatanya tidak. Banyak pemimpin Islam yang gugur dalam peristiwa ini, seperti Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Panglima Polim, dan Sultan Mamud Syah yang diasingkan ke Ambon tahun 1970. Cut Nyak Dien pun yang melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Umar dibuang ke Sumedang dan meninggal disana.
Tapi sayangnya kado terindah persembahan para ulama untuk Indonesia dikubur dalam-dalam. Pada awal kepemimpinan presiden Soekarno, nampaknya Islam justru menjadi momok yang menakutkan. Beberapa kebijakan anti Islam banyak terbukti. Seperti penolakan sila pertama paiagam Jakarta, yang jelas-jelas telah disetujui pada siding konstituante. Tapi, memang jika menengok ke heterogennya ragam Indonesia memang harusnya seperti itu. Terlepas dari kebijakan pemerintah sendiri apakah pembentukan Indonesia itu berdasarkan Islam atau tidak. Bagaimanapun juga suatu kebijakan harus diambil kata sepakat oleh semua pihak. Lain pancasila, lain pula Partai Islam Masyumi. Partai Islam ini dibubarkan oleh Soekarno tahun 1960, hal ini menunjukkan ketidak netralan kebijakan pemerintah dalam agama.
Setelah Soekarno, muncul sosok Soeharto pengganti presiden pertama. Setelah tadi disinggung pembubaran Masyumi 1960, pada era beliau ada pengakuan untuk merekonstruksi Masyumi tahun 1968. Tapi, pendapat tersebut ditolak oleh Soeharto. Para pembantu dan mentri yang ada dalam tubuh Orde Baru ini didominasi oleh non Islam. Apa daya kini Islam hanya menjadi penonton kebijakan pemerintah. Akan tetapi, ada organisasi ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk oleh Soeharto sendiri karena melihat situasi umat Islam yang mulai mendesak kedudukannya. Setelah ICMI terbentuk, beberapa mentri dari kalangan santri muncul ke pangnggung, puncaknya pada tahun 1993. Dan partai Islam pun ikut memunculkan taringnya seperti PPP, meski hanya dianggap sebagai simbol demokrasi multi partai semata. Namun, naiknya tokoh Islam ke panggung pemerintah justru merobohkan eksistensi Orde Baru.
Berbeda dengan masa silam, kini muncul tragedi 411 aksi bela agama atas tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) dapat digambarkan sebagai aktor kolonial masa kini. Beliau ditetapkan sebagai tersangka. Presiden yang dalam agenda acara aksi tersebut diundang, justru malah menolehkan diri. Beliau Enggan hadir di acara aksi ini. Sedangkan Ahok tetap tenang menjalani kampanye untuk mempromosikan dirinya di kursi Gubernur DKI.
Setelah aksi bela agama, dilanjutkan dengan aksi damai tanggal 2 Desember 2016, atau dikenal sebagai 212. Jutaan Muslim Indonesia berbondong-bondong mengorbankan waktu dan tenaganya untuk jihad menegakkan kebenaran di silang monas Jakarta untuk yang kedua kalinya. Tapi, ada yang berbeda dengan aksi damai disini. Presiden yang pada aksi bela agama tidak hadir, akhirnya sekarang dia hadir, Pada awalnya, beliau bersama wakil presiden awalnya enggan shalat jum'at di Monas. Keputusan untuk shalat di Monas ini sangatlah mendadak. Lukman Hakim, selaku mentri agama yang ikut shalat jum'at juga menuturkan bahwa keputusan ini sangat mendadak, beberapa menit sebelum adzan dzuhur berkumandang.
Dalam aksi damai ini, sebelumnya sempat ada isu makar. Namun, menjelang pelaksanaan aksi 212, tudingan makar meredup. Presiden Jokowi kemudian menyebut aksi ini sebagai do'a bersama. Bahkan Polri menyebutnya ibadah. Ketika massa yang akan berangkat ke Jakarta meledak, sempat ada larang bus PO untuk mengangkutnya ke Jakarta. Tapi, semangat mereka tak pernah padam. Contohnya di Ciamis, para santri dan Ulama berbondong-bondong berjalan kaki menuju Jakarta. Hal ini mengundang simpati masyarakat yang mereka lewati
Dari serangkaian peristiwa kontemporer tersebut, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) telah berjasa bagi warna sejarah Islam Indonesia. Banyak sekali kebijakan yang beliau buat demi kemajuan Jakarta bahkan Indonesia. Terutama dibidang ekonomi, seyogianya beliau memiliki sikap yang tegas, lugas dan gesit. Dan untuk sekarang dalam bidang agama, umat Islam di Indonesia bisa bersatu hanya karena kesalah pahaman pendapat beliau atas surat Al-Maidah 51. Tapi, sayangnya cara yang beliau gunakan tidak sependapat dengan keseluruhan umat Islam Indonesia. Karena walau bagaimanapun Indonesia dikenal negara dengan mayoritas beragama Islam dan Pancasila sebagai ideologinya.
Oleh : Lena Latifah, Santriah Pusaka danMahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN SGD Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar